Cara Mendapatkan Malam Lailatul Qadar Sesuai Tuntunan Rasulullah ﷺ
Ramadhan bukan sekadar perlombaan menahan lapar, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang memuncak pada satu titik paling bercahaya dalam setahun, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini merupakan momen yang paling dinantikan oleh miliaran umat Muslim di seluruh dunia. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Qadr, malam ini adalah malam diturunkannya permulaan Al-Qur’an, sebuah malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Namun, apa sebenarnya hakikat di balik nama “Al-Qadr” tersebut dan bagaimana cara terbaik untuk menjemputnya?
Definisi dan Makna Lailatul Qadar
Secara terminologi, Lailatul Qadar sering diterjemahkan sebagai malam kemuliaan. Namun, jika kita merujuk pada keterangan dalam kitab I’anatut Thalibin (Cet. Dar al-Kutub al-Islamiyyah, juz 2 hal. 461) karya Syekh Bakri ad-Dimyathi, kata “Al-Qadr” memiliki makna yang sangat mendalam terkait takdir manusia. Beliau menjelaskan:
اَلْمُرَادُ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ الْحُكْمِ. وَالْمَعْنَى لَيْلَةُ التَّقْدِيْرِ، سُمِّيَتْ بِذلِكَ لَأَنَّ اللهَ تَعَالَى يُقَدِّرُ فِيْهَا مَا يَشَاءُ مِنْ أَمْرِهِ إَلَى مِثْلِهَا مِنَ السُّنَّةِ الْقَابِلَةِ
Artinya: “ “Yang dimaksud dengan Lailatul Qadar adalah malam penetapan. Maknanya adalah malam penentuan takdir. Dinamakan demikian karena pada malam tersebut Allah Ta’ala menentukan apa yang Dia kehendaki dari urusan-Nya hingga waktu yang sama di tahun mendatang.” (I’anatut Thalibin, Juz 2).
Penetapan takdir ini mencakup perkara kematian, ajal, rezeki, dan segala urusan kehidupan yang kemudian diserahkan pelaksanaannya kepada empat malaikat utama: Israfil, Mikail, Izrail, dan Jibril AS. Dengan demikian, Lailatul Qadar adalah malam administratif langit di mana nasib seorang hamba untuk satu tahun ke depan sedang diputuskan.
Keutamaan Malam yang Tak Tertandingi
Keutamaan Lailatul Qadar tidak tertandingi oleh malam mana pun sepanjang tahun. Syekh Bakri ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin menyebutnya sebagai Afdhalu Layali as-Sanah (Malam paling utama dalam setahun). Keutamaan yang paling menggiurkan bagi setiap mukmin adalah jaminan ampunan dosa secara total. Dalam kitab Riyadhus Shalihin (Cet. Dar al-Kutub al-Islamiyyah, hal. 321), Imam al-Nawawi mencantumkan hadis riwayat Abu Hurairah RA bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Riyadhus Shalihin, Hadis No. 1189).
Menariknya, para ulama menjelaskan bahwa “menghidupkan malam” (qiyam) tidak selalu berarti harus terjaga penuh semalam suntuk. Meskipun yang paling utama adalah menghidupkan seluruh atau mayoritas malam dengan ibadah, namun secara minimalis, melakukan shalat Isya secara berjamaah pun sudah bisa dianggap mendapatkan bagian dari keutamaan malam tersebut. Ibadah yang dilakukan di malam ini dilipatgandakan pahalanya melebihi amal yang dilakukan selama 83 tahun lebih tanpa Lailatul Qadar di dalamnya.
Cara Nabi ﷺ Meraih Lailatul Qadar
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mengerti betapa berharganya malam ini. Oleh karena itu, beliau memiliki strategi khusus saat memasuki sepertiga terakhir Ramadhan. Beliau tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga mengajak keluarga untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah. Sebagaimana diceritakan oleh Ibunda Aisyah RA dalam Riyadhus Shalihin (cet. Dar al-Kutub al-Islamiyyah, hal. 322):
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ الأَخِرُ مِنْ رَمَضَانَ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ المِئْزَرَ
Artinya: “Rasulullah ﷺ apabila telah masuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikatan sarungnya.” (Riyadhus Shalihin, Hadis No. 1193).
Istilah “mengencangkan ikat pinggang” atau syadda al-mi’zar merupakan kiasan bagi kesiapan mental dan fisik untuk beribadah secara totalitas, sekaligus menjauhi hubungan suami istri demi fokus menghamba. Selain itu, Nabi ﷺ sangat menganjurkan i’tikaf (berdiam diri di masjid). Dalam I’anatut Thalibin, disebutkan bahwa i’tikaf sangat ditekankan untuk menjaga jiwa dari perbuatan yang tidak layak, sehingga hamba berada dalam kondisi paling bersih saat bertemu malam takdir.
Untuk meraih malam ini, kita dianjurkan memperbanyak tiga hal utama: sedekah, tilawah Al-Qur’an, dan i’tikaf. Jika kita merasa bimbang kapan tepatnya malam tersebut, Nabi ﷺ memberikan arahan dalam riwayat Imam Bukhari: “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.” Namun, kunci keberhasilannya bukanlah pada penghitungan tanggal semata, melainkan pada konsistensi ibadah di setiap malamnya.
Terakhir, senjata paling ampuh saat kita merasa berada di malam tersebut adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Aisyah RA: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku). Dengan menggabungkan kesungguhan ibadah, i’tikaf, dan ketulusan doa, semoga kita termasuk hamba-Nya yang beruntung mendapatkan ketetapan takdir yang indah di tahun mendatang.
Referensi
Bin Syaraf, Yahya. Riyadh ash-Sholihin. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2010.
Bin Syatha, Bakri. Hasyiyah Ianatut Thalibin ‘ala Halli Alfadzi Fathil Mu’in. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2009.
Penulis: Alfin Haidar Ali