Demi Menghormati Wanita, Ulama ini Berpura-Pura Tuli
Pada abad ketiga Hijriah, dunia Islam memasuki sebuah fase yang sering disebut sebagai masa keemasan dalam pembukuan hadis Nabi—yang dalam literatur dikenal dengan istilah ‘ashr tadwīn al-ḥadīts atau The Golden Age of Hadith Compilation. Pada periode inilah berbagai karya monumental lahir dan menjadi rujukan umat Islam hingga hari ini. Nama-nama besar seperti Imam al-Bukhari dan Imam Muslim muncul sebagai tokoh sentral yang tidak hanya mengumpulkan hadis, tetapi juga menyaringnya dengan standar ketelitian yang luar biasa ketat.
Saat Ilmu Berjalan Beriringan dengan Amal
Di sisi lain, keagungan para ulama pada masa itu tidak hanya terletak pada keluasan ilmu mereka. Lebih dari itu, mereka adalah sosok yang benar-benar menghidupkan ilmu dalam keseharian. Ilmu yang mereka pelajari tidak berhenti sebagai hafalan atau wacana intelektual semata, tetapi meresap ke dalam hati, membentuk karakter, dan tercermin nyata dalam akhlak serta perilaku. Dengan kata lain, ilmu dan amal berjalan beriringan—sebuah harmoni yang menjadi ciri khas ulama salaf.
Di antara deretan ulama hebat yang hidup pada abad ketiga Hijriah, terdapat sosok yang dikenal luas karena kebijaksanaan dan keluhuran akhlaknya, yaitu Syaikh Hatim al-Asham bin Ulwan. Ia berasal dari Khurasan, sebuah wilayah yang pada masa itu menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Di tengah masyarakatnya, Syaikh Hatim dikenal bukan hanya sebagai orang yang alim, tetapi juga sebagai tempat bertanya, tempat mengadu, dan tempat mencari solusi atas berbagai persoalan, baik yang bersifat keagamaan maupun kehidupan sehari-hari.
Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1277 M. seorang ulama asal Banten) dalam kitabnya yang berjudul Qami’ at-Thugyan (cet. Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2025. hal. 50) menulis kisah ikonik tentang Syaikh Hatim al-Asham.
Pura-Pura Tuli, Demi Menghargai Wanita
Pada suatu hari, seorang perempuan datang menemui Syekh Hatim al-Asham bin Ulwan untuk berkonsultasi tentang masalah yang sedang ia hadapi. Setelah membuka percakapan dengan basa-basi, ia mulai menceritakan persoalannya dengan cukup panjang.
Di tengah cerita, ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman di perutnya. Dorongan untuk buang angin semakin kuat. Ia berusaha sekuat tenaga menahannya, apalagi ia sedang duduk di hadapan seorang ulama besar yang sangat dihormati. Syukurlah, untuk sementara ia berhasil menahan rasa itu.
Namun kegelisahan mulai mengganggu konsentrasinya. Ia pun mempercepat penjelasan dan langsung menuju inti pertanyaan. Sayangnya, tepat di akhir kalimat pertanyaannya, tanpa bisa ditahan lagi, suara gejolak yang sedari ia tahan pun akhirnya keluar.
Wajahnya seketika memerah. Ia merasa sangat malu, seolah kehilangan harga diri. Dalam hatinya, ia merasa telah bersikap tidak sopan di hadapan seorang ulama besar yang dihormati masyarakat Khurasan. Ia pun menunggu dengan cemas bagaimana reaksi Syekh Hatim.
Di sisi lain, Syekh Hatim sempat terkejut, tetapi segera menenangkan diri. Ia memahami bahwa kejadian itu bukan sesuatu yang disengaja. Ia juga bisa merasakan betapa tamunya sedang diliputi rasa malu yang mendalam.
Tidak ingin tamunya pulang dengan perasaan malu, Syekh Hatim mencari cara untuk menjaga kehormatannya. Ia pun berpura-pura seolah pendengarannya sudah berkurang. Dengan tenang, ia berkata:
فَقَالَ حَاتِمٌ: ارْفَعِي صَوْتَكِ
“Coba ulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih keras.”
Dengan sikap itu, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sang perempuan pun terselamatkan dari rasa malu yang bisa menghancurkan hatinya.
Bahkan, setelah itu Syaikh Hatim tetap berpura-pura tuli hingga wanita itu meninggal dunia. Dan sejak saat itu pula, beliau dijuluki Syaikh Hatim al-Asham. Al-Asham sendiri dalam bahasa Arab mempunyai makna tuli.
Kisah ini mengajarkan bahwa menjaga perasaan dan kehormatan orang lain terkadang lebih utama daripada menunjukkan bahwa kita mengetahui sebuah ketidaktepatan. Kadang, pura-pura tidak tahu justru merupakan bentuk kebijaksanaan yang paling halus.
Referensi
Al-Bantani, Nawawi. Qami’ at-Thugyan. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2025.