Isra Mikraj dalam Satu Ayat: Tafsir, Hikmah, dan Kemuliaan Rasulullah
Setiap ayat dalam Al-Qur’an mengandung makna yang sangat dalam. Salah satu buktinya terlihat dari perjalanan spiritual Sayyidina Umar bin Khattab, yang masuk Islam setelah tersentuh dan terkesan mendengar ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh adiknya, Fatimah.
Dalam bulan Rajab ini, ayat yang paling sering didengar dan dikumandangkan dalam pengajian atau acara Peringatan Isra Mikraj adalah surat Al-Isra’ ayat: 1 yang berbunyi:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ اٰيٰتِنَا اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)
Tapi, tahukah kamu apa saja kandungan makna yang tersimpan dalam ayat tersebut? Berikut penjelasannya yang diambil dari kitab tafsir-tafsir ulama yang sebagian besar diambil dari kitab Hasyiyah as-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain (cet. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, hal. 298-299).
1. Kata “بِعَبْدِه”
Mengapa dalam ayat ini yang digunakan kata ‘abd (hamba), bukan rasul, nabi, atau sebutan lain yang lebih menunjukkan status kenabian beliau?
Pertanyaan ini dijelaskan dalam Hasyiyah as-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain pada penafsiran kata “بِعَبْدِهِ” bahwa hal ini merupakan isyarat bahwa sifat sebagai hamba adalah sifat yang paling khusus dan paling mulia. Sebab, apabila hubungan seorang hamba dengan Tuhannya benar dan murni, sehingga ia tidak menyekutukan-Nya dengan siapa pun dalam ibadah kepada-Nya, maka sungguh ia telah meraih kemenangan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Allah menyebut Nabi dengan sebutan hamba dalam berbagai maqam yang mulia, sebagaimana dalam ayat ini.
2. Kata “لَيْلًا”
Dalam Tafsir al-Jalalain (cet. Dar al-Kutub al-Islamiyyah, hal. 258) dijelaskan bahwa adapun faidah kata “لَيْلًا” di-nashab-kan menjadi dzarf (menunjukan makna waktu), karena sebagai isyarat bahwa durasi terjadinya Isra (perjalanan malam) itu pendek. Lebih lanjut, dalam Hasyiyah as-Shawi bahwa yang dimaksud durasi pendek tersebut ada yang mengatakan kurang lebih selama empat jam, ada juga yang mengatakan tiga jam dan ulama lain (termasuk Imam as-Subky) berpendapat bahwa terjadinya hanya sekejap saja (lahdzah).
3. Kata “الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ”
Sedangkan yang dimaksud “الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ” adalah Mekah. Lebih spesifik, as-Shawi menjelaskan terdapat dua pendapat terkait posisi Baginda Nabi ketika di-Isra’ kan. Terdapat dua pendapat terkait posisi Nabi saat Isra: sebagian ulama menyebut beliau sedang tidur di Masjidil Haram, sementara yang lain menyatakan beliau sedang berada di kediaman Ummu Hani’. Jika kita berpijak pada pendapat kedua, Syaikh as-Shawi menjelaskan bahwa pada waktu itu, Rasulullah dibawa oleh Malaikat menuju ke Masjid. Setelah itu para Malaikat membedah dadanya Nabi, kemudian Buraq datang dan Malaikat meletakkan Rasulullah di atasnya.
Selain itu, as-Shawi juga menjelaskan kondisi masjid pada waktu tidak seluas pada zaman sekarang, tetapi hanya sebatas tempat untuk berthawaf, baru kemudian para khalifah setelahnya memperluas wilayah masjid. Adapun orang yang pertama kali memperluas Masjidil Haram adalah Umar bin Khattab.
4. Kata “اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا”
Adapun yang dimaksud “اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا” menurut as-Shawi, bahwa Masjidil Aqsa adalah masjid pertama yang dibangun di bumi setelah Ka’bah. Masjid ini dibangun oleh Nabi Adam setelah Ka’bah dibangun selama empat puluh tahun. Sedangkan hikmah perjalanan Isra ke Baitul Maqdis adalah untuk menunjukkan kemuliaannya di atas seluruh nabi dan rasul, karena pada waktu itu, beliau salat menjadi imam bagi mereka di tempat mereka berada.
Selain itu, Imam al-Alusy dalam kitab tafsirnya, Ruh al-Ma’ani (CD. Juz. 8 hal. 11)menjelaskan bahwa ada 5 kendaraan (tingkatan) pada malam Isra:
- Buraq menuju Baitul Maqdis.
- Mi’raj dari Baitul Maqdis menuju langit dunia.
- Sayap-sayap malaikat dari langit dunia hingga langit ketujuh.
- Sayap Jibril as. dari langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha.
- Yang kelima adalah sayap (terakhir) dari Sidratul Muntaha hingga “dua busur” (jarak dekat dengan Arasy).
Imam al-Alusy juga menjelaskan bahwa: Hikmah dari perjalanan ini adalah untuk menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad saw., meskipun Allah swt. sebenarnya mampu memindahkan beliau ke mana pun dalam sekejap. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa hanya Buraq yang mengantar baginda Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
Jika disimpulkan menurut Imam al-Alusy, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah saw. menempuh sepuluh tingkatan perjalanan: tujuh lapis langit, tingkatan kedelapan Sidratul Muntaha, tingkatan kesembilan tempat terdengarnya suara pena-pena takdir (al-qalam), dan tingkatan kesepuluh hingga Arsy.
Dengan demikian, ayat ini tidak hanya mencatat perjalanan mukjizat Nabi Muhammad saw., tetapi juga mengandung pelajaran tentang kedudukan beliau, keagungan perjalanan spiritual, serta tanda-tanda kekuasaan Allah swt.
Referensi
Al-Mahalli, Jalaluddin, dan Jalaluddin as-Suyuthi. Tafsir al-Jalalain. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah.
Ash-Shawi, Ahmad bin Muhammad. Hasyiyah ash-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
Al-Alusi, Mahmud. Ruh al-Ma‘ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim wa as-Sab‘ al-Matsani. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.