Berikut Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriyah
Momentum pergantian tahun, baik Hijriyah maupun Masehi, merupakan saat yang tepat untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri). Dalam Islam, pergantian waktu mengisyaratkan berkurangnya jatah usia di dunia. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan mengisi momen ini dengan beribadah, salah satunya melalui amalan doa akhir dan awal tahun.
Pentingnya doa dalam momen ini sejalan dengan penegasan Rasulullah ﷺ bahwa doa bukanlah sekadar formalitas lisan, melainkan inti dari spiritualitas itu sendiri. Dalam kitab Bulughul Marom (Cet. Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, hal. 289) yang diriwayatkan oleh An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:
وَعَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ – رضي الله عنهما – عَنِ النَّبِيِّ – ﷺ – قَالَ: «إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ». رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ
Artinya: Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya doa itu adalah ibadah. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Dalam riwayat lain dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ juga menegaskan:
وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ بِلَفْظِ: «الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ
Artinya: Dan bagi Imam At-Tirmidzi, dari hadis Anas radhiyallahu ‘anhu dengan lafal: ‘Doa itu adalah inti (sumsum) ibadah.
Ketika berdoa, seorang hamba menanggalkan kesombongannya dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah yang Maha Kuasa. Atas dasar hakikat inilah, kita dianjurkan menutup tahun yang lalu dan membuka tahun yang baru dengan untaian doa berikut:
Doa Akhir Tahun
Dalam kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafa’is (Cet. Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, hal. 362), Syekh Abdurrahman As-Shafuri menerangkan bahwa barangsiapa membaca doa akhir tahun sebagaimana yang akan diterangkan di bawah ini, Maka Setan akan berkata: ‘Kita telah lelah menggoda dan menjerumuskannya sepanjang tahun, lalu ia merusak (semua dosa hasil godaan kita dalam sekejap dengan doa ini).
Berikut adalah teks doa yang dimaksud oleh Syekh Abdurrahman As-Shafuri dalam kitab tersebut:
اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ هَذِهِ السَّنَةَ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ، وَنَسِيتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْقدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ، اَللَّهُمَّ فَإِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَا كَرِيمُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ أَنْ تَقْبَلَهُ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَع رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Artinya : Ya Allah, apa yang telah aku lakukan pada tahun ini dari hal-hal yang Engkau larang dan tidak Engkau ridai, sementara aku telah melupakannya tetapi Engkau tidak melupakannya; dan Engkau telah berlemah lembut kepadaku (dengan menangguhkan siksaan) setelah Engkau berkuasa untuk menghukumku, serta Engkau telah menyeruku untuk bertobat darinya setelah keberanianku dalam bermaksiat kepada-Mu; Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan-Mu atas dosa-dosa tersebut, maka ampunilah aku.
Dan apa yang telah aku lakukan di tahun ini dari amal saleh yang Engkau ridai dan Engkau janjikan pahala atasnya, maka aku memohon kepada-Mu, ya Allah, wahai Zat Yang Maha Mulia, wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, agar Engkau menerima amal tersebut dariku, dan janganlah Engkau memutuskan harapanku kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Mulia.
Dan semoga Allah memberikan selawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Doa Awal Tahun
Selain menjelaskan keutamaan Doa Akhir Tahun, Syekh Abdurrahman As-Shafuri dalam kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafa’is (Cet. Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, hal. 363) juga menerangkan amalan spiritual saat memasuki hari pertama bulan Muharam.
Beliau menyebutkan bahwa barang siapa yang membaca doa awal tahun ini, maka setan akan mengeluh, “Kita telah berputus asa atas dirinya (untuk digoda).” Tidak hanya itu, Allah SWT. juga akan mengutus dua malaikat untuk menjaga orang tersebut sepanjang tahun.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيمُ، وَهَذِهِ سَنَةٌ جَدِيدَةٌ، أَسْأَلُكَ فِيهَا الْعِصْمَةَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ يَا كَرِيمُ
Artinya : Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Kekal lagi Qadim (tanpa permulaan). Ini adalah tahun baru, aku memohon kepada-Mu di tahun ini perlindungan dari setan beserta para pengikutnya, pertolongan agar mampu mengendalikan hawa nafsu yang sering mendorong pada keburukan, serta kesibukan dalam aktivitas yang dapat mendekatkan diriku kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Kesimpulan
Menyatukan pemahaman hadis tentang kedudukan doa dengan amalan pergantian tahun menyadarkan kita bahwa momen ini harus disambut secara spiritual, bukan dengan pesta pora. Dengan berdoa, kita menutup lembaran lama dengan tobat dan membuka lembaran baru dengan penyerahan diri yang total kepada Allah SWT.
Referensi
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Bulughul Marom. Cet. Pertama. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2002.
As-Shafuri, Abdurrahman. Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafa’is. Cet. Pertama. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2026.
Penulis :
Alfin Haidar Ali