Jangan Biarkan Bulan Rajab Berlalu Sia-Sia! Ini 3 Amalan Utamanya
Saat bulan Rajab datang, seolah ada bisikan lembut di hati yang mengingatkan, “Ramadan sudah di depan mata.” Selain menjadi bulan haram (mulia), bulan ini pun menjadi momentum awal untuk memperbaiki diri dan memanaskan kembali semangat ibadah. Sebagai seorang Muslim, inilah saat yang tepat untuk mulai meningkatkan kualitas iman melalui amalan-amalan yang dianjurkan oleh syariat. Oleh karena itu, berikut tiga amalan utama yang sebaiknya kita jalankan di bulan Rajab.
1. Menghidupkan malam pertama bulan Rajab
Dalam kitab al-Umm, Imam Syafi’i (cet. Dar al-Ma’rifat, juz. 1 hal. 264) menjelaskan bahwa ada beberapa malam yang sebaiknya kita sebagai umat Islam menghidupkannya, berikut penjelasannya:
وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ: فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
Telah sampai kepada kami sebuah kabar bahwa dahulu pernah dikatakan: “Sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam, yaitu: malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab, dan malam pertengahan bulan Sya’ban.”
Adapun arti kata “menghidupkan malam” menurut Syaikh Ibrahim al-Baijuri dalam kitab Hasyiyah al-Bayjuri ‘ala Ibn Qosim (cet. Dar al-Kutub al-Islamiyah, juz. 1 hal. 583) mengelompokkannya menjadi 3 tingkatan:
- Derajat paling tinggi: menghidupkan seluruh malam dengan berbagai macam ibadah, seperti salat, membaca Al-Quran, memperbanyak doa dan lainnya.
- Derajat menengah: Menghidupkan sebagian besar malam dengan ibadah-ibadah tersebut.
- Derajat paling rendah: Menghidupkan malam dengan menjalankan salat Isya berjamaah dan ada keinginan kuat untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.
2. Memperbanyak bacaan doa ala Rasulullah
Ketika bulan Rajab tiba, Rasulullah mencontohkan kepada kita doa tatkala memasuki bulan Rajab. Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah (cet. Dar al-Kutub al-Islamiyyah, hal. 269) mengutip hadis yang diriwayatkan dari Sahabat Anas ra. yang berupa:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَب قَالَ: “اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ“
“Apabila bulan Rajab telah masuk, Rasulullah ﷺ berdoa: ‘Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadan”.
3. Berpuasa
Syaikh Khatib as-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj (cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz. 2, hal. 127) bahwa salah satu puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa pada bulan Rajab.
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، ثُمَّ رَجَبُ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram, kemudian bulan Rajab.”
Selain itu, dalam kitab Durratun Nāshiḥīn (cet. Dar al-Kutub al-Islamiyyah, hal. 51) dijelaskan secara rinci berbagai keutamaan puasa di bulan Rajab, di antaranya:
- Puasa 1 hari akan mendapatkan rida Allah Swt.
- Puasa 2 hari memperoleh kemuliaan yang tidak mampu dihitung oleh penduduk langit dan bumi.
- Puasa 3 hari akan diselamatkan dari berbagai bencana dunia, azab akhirat, penyakit gila dan kusta, serta fitnah Dajjal.
- Puasa 7 hari ditutupkan baginya tujuh pintu neraka Jahanam.
- Puasa 8 hari dibukakan untuknya delapan pintu surga.
- Puasa 10 hari setiap doa dan permintaannya akan dikabulkan oleh Allah.
- Puasa 15 hari diampuni seluruh dosa-dosanya yang telah lalu, dan keburukan-keburukannya diganti dengan kebaikan.
Lebih dari itu, siapa pun yang menambah jumlah puasanya di bulan Rajab, maka Allah pun akan menambah pahala untuknya. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan kemurahan Allah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menghidupkan bulan Rajab dengan ibadah.
Penutup
Bulan Rajab adalah kesempatan emas yang sering datang tanpa banyak kita sadari. Ia bukan sekadar lewat dalam kalender, tetapi hadir sebagai pintu awal untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak harus langsung sempurna, yang terpenting adalah memulai. Dengan menghidupkan malam-malamnya, memperbanyak doa, dan membiasakan diri berpuasa, semoga langkah kecil kita di bulan Rajab ini menjadi jalan besar menuju Ramadan yang penuh berkah dan ampunan. Karena bisa jadi, Rajab inilah awal dari hijrah hati kita yang sesungguhnya.
Referensi:
Al-Baijuri, Ibrahim. Hasyiyah al-Bayjuri ‘ala Ibn Qosim. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2007.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Adzkar An-Nawawiyah. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2004.
Asy-Syakiri. Al-Khubawi, Usman bin Hasan bin Ahmad. Durratun Nashihin. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2020.
As-Syafi‘i, Muhammad bin Idris. Al-Umm. Jilid 1. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1990.
As-Syirbini, Muhammad bin Ahmad al-Khatib. Mughni al-Muhtaj. Jilid 2. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.