Puasa Arafah & Tarwiyah: Berikut Niat, Keutamaan dan Jadwalnya

Puasa Arafah & Tarwiyah: Berikut Niat, Keutamaan dan Jadwalnya

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu di antara empat bulan mulia (al-asyhurul hurum) yang kedatangannya senantiasa dinantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Di dalam bulan ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melipatgandakan pahala amal saleh dan membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. 

Bagi kaum muslimin yang belum mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Allah memberikan anugerah agung berupa amaliyah sunnah yang pahalanya sangat dahsyat, yaitu Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah.

Dalam sebuah hadis di dalam kitab Riyadh as-Sholihin (Cet. Dar al-Kutub al-Islamiyah, hal. 333) diterangkan bahwa 10 hari pertama bulan dzulhijjah memiliki kedudukan yang Istimewa dalam islam. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

عن ابنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما، قالَ: قالَ رسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا مِنْ أَيامٍ العَمَلُ الصَّالحُ فِيها أَحَبُّ إِلى اللَّهِ مِنْ هذِهِ الأَيَّامِ»يعني: أَيامَ العشرِ، قالوا: يَا رسولَ اللَّهِ وَلا الجهادُ في سبِيلِ اللَّهِ؟ قالَ:«وَلاَ الجهادُ فِي سبِيلِ اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرجَ بِنَفْسِهِ، وَمَالِهِ فَلَم يَرجِعْ منْ ذَلِكَ بِشَيءٍ» رواه البخاريُّ.

Artinya : Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini”—yang beliau maksud adalah sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah).

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah (bisa menandinginya)?”

Beliau bersabda: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari situ (karena mati syahid).” (HR. Bukhari).

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Mengapa kedua puasa ini begitu dianjurkan dalam mazhab kita, Mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i? Mari kita tengok penjelasan para ulama salaf yang termaktub dalam kitab-kitab turats muktabar mengenai keutamaan di balik dua hari tersebut.

Keutamaan Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)

Puasa tarwiyah merupakan puasa sunah yang dilaksanakan pada tanggal 08 dzulhijah. Dari sisi keutamaan, para ulama menyebutkan bahwa berpuasa pada hari Tarwiyah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu. Keutamaan ini berdasarkan hadis nabi yang tertera dalam kitab Jami’ al-Ahadis karya Imam as-Suyuthi:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ (أَبُو الشَّيْخِ، وَابْنُ النَّجَّارِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ)

Artinya :  Puasa pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dapat menghapus dosa selama satu tahun, dan puasa pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapus dosa selama dua tahun. (Hadis riwayat Abu Asy-Syaikh dan Ibnu An-Najjar, dari Ibnu Abbas).

Puasa ini juga menjadi rangkaian persiapan spiritual yang sempurna sebelum memasuki puncak hari Arafah keesokan harinya.

Keutamaan Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

Puasa Arafah adalah puasa pada tanggal 09 Dzulhijjah. Keutamaannya disebutkan secara eksplisit oleh Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam kitab Bulughul Marom (Cet. Dar al-Kutub al-Islamiyah, hal. 122) hadis riwayat Imam Muslim:

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ، قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Artinya : Dan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa hari Arafah, lalu beliau bersabda: “Puasa tersebut dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang tersisa (yang akan datang).”

Dalam kitab Hasyiyah al-Baijuri (cet. Dar al-Kutub al-Islamiyah, juz 1 hal. 580), dijelaskan sebagaimana berikut :               

وَالْأَحْوَطُ صَوْمُ الثَّامِنِ مَعَهُ بَلْ يُنْدَبُ صَوْمُ مَا قَبْلَهُ مِنَ الْعَشْرِ وَمَحَلُّ نِدْبِ صَوْمِهِ لِغَيْرِ الْحَاجِّ أَمَّا هُوَ فَإِنْ عَرَفَ أَنَّهُ يَصِلُ عَرَفَةَ لَيْلًا سُنَّ لَهُ صَوْمُهُ وَإِلَّا سُنَّ لَهُ فِطْرُهُ.

Artinya : Dan perbuatan yang lebih berhati-hati adalah berpuasa pada hari kedelapan (hari Tarwiyah) bersamaan dengan hari kesembilan (hari Arafah), bahkan dianjurkan pula berpuasa pada hari-hari sebelum itu yang termasuk dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun letak kesunhan berpuasa Arafah ini adalah berlaku bagi selain orang yang sedang menunaikan ibadah haji. Sedangkan bagi jamaah haji, apabila ia mengetahui bahwa dirinya baru akan sampai di Arafah pada malam hari, maka disunnahkan baginya untuk tetap berpuasa. Namun jika tidak demikian—artinya ia berada di Arafah pada siang hari—maka disunnahkan baginya untuk tidak berpuasa (berbuka).

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa demi kehati-hatian (ikhtiyat) agar mendapatkan keutamaan yang sempurna, seseorang yang berpuasa Arafah (9 Dzulhijjah) sangat dianjurkan untuk ikut berpuasa pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), bahkan disunnahkan berpuasa penuh sejak tanggal 1 Dzulhijjah.

Selain itu, puasa Arafah hanya disunnahkan bagi orang yang tidak sedang berhaji. Bagi jamaah haji, hukum asalnya adalah disunnahkan tidak berpuasa agar kuat beribadah saat wukuf, kecuali jika jamaah tersebut tahu bahwa ia baru akan sampai di Padang Arafah pada malam hari, maka ia tetap disunnahkan berpuasa pada siang harinya.

Lafal Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

Dalam fikih Mazhab Syafi’i, niat adalah rukun utama dalam ibadah. Tempat niat adalah di dalam hati (mahalluhu al-qalb), sedangkan melafazkannya (talaffuzh) menggunakan lisan hukumnya adalah sunnah guna membantu kemantapan hati.

Niat Puasa Tarwiyah (Malam/Hari 8 Dzulhijjah)

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala.

Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Arafah (Malam/Hari 9 Dzulhijjah)

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi ta’ala.

Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”

Karena kedua puasa ini adalah puasa sunnah, maka apabila seseorang lupa berniat pada malam hari, ia masih diperbolehkan berniat di pagi atau siang hari (sebelum masuk waktu dzuhur), dengan syarat ia belum makan, minum, atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar shadiq.

Jadwal Pelaksanaan (Tahun 2026 / 1447 H)

Berdasarkan hasil keputusan Sidang Isbat Kementerian Agama RI yang baru saja diumumkan, awal bulan Dzulhijjah 1447 H telah ditetapkan secara resmi. Kabar baiknya, tahun ini terdapat keseragaman jadwal antara Pemerintah dan ormas-ormas Islam besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Berikut adalah jadwal resmi pelaksanaan ibadah dan puasa sunnah di bulan Dzulhijjah tahun 2026 untuk wilayah Indonesia:

  • 1 Dzulhijjah 1447 H: Jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026.
  • Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Jatuh pada hari Senin, 25 Mei 2026.
  • Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): Jatuh pada hari Selasa, 26 Mei 2026.
  • Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah): Jatuh pada hari Rabu, 27 Mei 2026.

Mengingat besarnya pahala yang disediakan oleh Allah, sangat merugi jika kita melewatkan momentum ini begitu saja. Mari kita hiasi hari-hari tersebut tidak hanya dengan berpuasa, melainkan juga memperbanyak membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta melantunkan dzikir—khususnya tahlil, tahmid, dan takbir.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rujukan Kitab Turats:

Bin Syaraf, Yahya. Riyadh ash-Sholihin. Cet. Pertama. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2010.

Suyuthi, Imam. Jami’ al-Ahadits. Tanpa Penerbit (Maktabah Syamilah)

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Bulughul Marom. Cet. Pertama. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2002.

Al-Baujuri, Ibrahim. Hasyiyah al-BaijuriCet. Pertama. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2007

Penulis: Alfin Haidar Ali

Bagikan ke: