Posted on Leave a comment

Pentingnya Tawakal Bagi Santri dalam Perjalanan Mencari Ilmu

Tawakkal adalah sikap hati yang sederhana tetapi mampu mengubah seluruh cara kita menjalani hidup. Banyak orang mengira tawakkal itu berarti pasrah tanpa usaha. Padahal, ajaran Islam menempatkan tawakkal sebagai keseimbangan antara ikhtiar yang sungguh-sungguh dan hati yang bergantung penuh kepada Allah.

Al-Qur’an mengingatkan, rezeki—dalam bentuk apa pun—selalu berada dalam pengaturan Allah. Namun, rezeki tidak hanya soal harta. Seperti disebutkan dalam QS. Al-Fajr ayat 15–16:

﴾فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَهَانَنِ﴿

Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, ia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun bila Tuhannya mengujinya dan menyempitkan rezekinya, ia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’”

Ayat ini menegur cara pandang manusia: lapang atau sempitnya rezeki bukan ukuran kemuliaan seseorang. Tawakkal mengajarkan agar hati tidak tergantung pada dunia, tetapi pada Allah yang mengatur dunia.

Dalam dunia pesantren, seorang santri diajarkan agar hatinya tidak disibukkan dengan urusan rezeki, pakaian, bahkan jodoh. Semua itu bukan prioritas utama bagi pencari ilmu. Yang terpenting adalah menjaga hati tetap fokus kepada Allah dan ilmu yang sedang dipelajari. Sebab, siapa yang benar-benar mendalami agama, maka Allah sendiri yang akan mencukupi semua kebutuhannya.

Syekh az-Zarnuji dalam ta’limul mutaállim (Cet. Dar Al-Kutub al-Islamiyah: Jakarta, hal. 85) mengutip sabda Nabi ﷺ :

مَن تَفَقَّهَ فِي دِينِ اللهِ كَفَاهُ اللهُ هَمَّهُ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa mendalami agama Allah, niscaya Allah akan mencukupi segala kekhawatirannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.”

Tawakkal dalam Menuntut Ilmu

Dalam Ta’lim al-Muta’allim, Syaikh Az-Zarnuji menekankan bahwa pencari ilmu harus menjaga hati dari kekhawatiran berlebih tentang rezeki. Orang yang terlalu memikirkan dunia, kata beliau, akan sulit mencapai akhlak dan cita-cita mulia. Beliau menulis:           

وينبغي لطالب العلم أن لا يشتغل بشيء اخر غير العلم ولا يُعرض عن الفقه

Seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk tidak disibukkan oleh apa pun selain ilmu, dan tidak berpaling dari fikih.”

Ini bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi memprioritaskan ilmu, waktu, dan kejernihan hati. Imam al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin (Maktabah Turoth: juz 1, hal 8) mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ:

بَابٌ مِنَ العِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ الرَّجُلُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

 Satu bab ilmu yang dipelajari seseorang lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.” (HR. Ibnu Hibban)

Tawakkal sejati menuntut kesabaran menghadapi kesulitan. Dalam Ta’lim al-Muta’allim dijelaskan bahwa perjalanan menuntut ilmu pasti penuh kesusahan:

 فمن صَبَرَ على ذلك التَّعَب وجد لذَّة العلم تفوق لذّات الدنيا 

Siapa yang sabar menghadapi kesulitan itu, ia akan mendapatkan kelezatan ilmu yang melebihi kelezatan dunia.”

Oleh karena itu, tawakkal menjadi syarat penting bagi keberhasilan seorang santri dalam menuntut ilmu. Hati yang sibuk dengan urusan rezeki, dunia, atau keinginan-keinginan lain akan mudah gelisah, cepat lelah, dan tidak mampu merasakan manisnya belajar. Sebaliknya, tawakkal membuat seorang penuntut ilmu memusatkan perhatiannya pada hal yang benar-benar bermanfaat bagi akhiratnya, menjaga wibawa hatinya, dan menguatkan kesabarannya dalam menghadapi perjalanan ilmu yang penuh tantangan.

Penutup

Tawakkal adalah sumber ketenangan. Ia membuat kita berusaha tanpa putus asa, menerima tanpa mengeluh, dan melangkah tanpa takut. Ketika hati bergantung pada Allah, hidup terasa lebih ringan, dan setiap langkah menjadi ibadah.

Inilah tawakkal yang diajarkan Al-Qur’an, dicontohkan Nabi ﷺ, dan dipertegas para ulama dalam Ta’lim al-Muta’allim: belajar dengan sungguh-sungguh dan hatinya tidak sibuk dengan urusan rezeki, pakaian dan  jodoh, tetapi menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah Yang Mahabaik.

Referensi

Zarnuji, S.(2007). Ta’limul Muta’allim. Jakarta: Dar Al Kutub Islamiyah, hal. 41

Ghozali, I. Ihya’ Ulumuddin (CD: Maktabah Turoth). Juz 1, hal. 391

Posted on Leave a comment

Memahami Hadis Nabi, Cinta Dunia Pangkal Segala Kesalahan

Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang amat penting bagi umatnya tentang bahaya cinta dunia. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:

حب الدنيا راس كل خطيئة  

“Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.”

Hadis ini memberi peringatan serius bahwa kecintaan yang berlebihan terhadap dunia merupakan sumber dari berbagai dosa dan kesalahan. Dunia yang seharusnya menjadi sarana menuju akhirat seringkali berubah menjadi tujuan utama yang menjerat manusia dalam berbagai fitnah.

Bahaya Cinta Dunia

Dalam Risalah Mudzakirah karya al-‘Allamah al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dijelaskan bahwa cinta dunia adalah sumber segala bencana dan pangkal segala kehancuran. Bahayanya telah merata di berbagai kalangan, baik dari golongan atas maupun bawah. Manusia berlomba-lomba memamerkan kekayaan tanpa rasa malu, seakan-akan dunia menjadi tujuan utama yang wajib dimakmurkan, bahkan lebih utama daripada kewajiban shalat dan puasa.

Akibat cinta dunia yang berlebihan, cahaya agama menjadi redup, keyakinan melemah, dan kebenaran semakin sulit ditegakkan. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umat ini adalah harta:

لكل أمة فتنة وفتنة أمتي المال , ولكل أمة عجل وعجل أمتي الدينار والدرهام

“Setiap umat memiliki fitnah (ujian/cobaan), dan fitnah bagi umatku adalah harta. Dan setiap umat memiliki ‘anak sapi’ (yakni berhala yang disembah, sebagaimana Bani Israil), dan ‘anak sapi’ bagi umatku adalah dinar dan dirham (yakni uang/harta).

Hadis ini menegaskan bahwa sebagaimana Bani Israil tersibukkan dengan menyembah patung anak sapi, umat Nabi Muhammad ﷺ juga dapat tersibukkan oleh harta sehingga lalai beribadah kepada Allah ﷻ

Tingkatan Dunia

Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad membagi dunia ke dalam tiga tingkatan:

  1. Dunia yang mengandung pahala        
    Yaitu dunia yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah ﷻ. Makanan, harta, pakaian, maupun fasilitas hidup yang dipakai untuk mendukung ibadah, membantu orang miskin, atau menunaikan kewajiban akan bernilai pahala. Dunia seperti ini menjadi kendaraan menuju akhirat.
  2. Dunia yang mengandung hisab           
    Yaitu dunia yang mubah, yang tidak menyibukkan dari ibadah dan tidak pula digunakan untuk maksiat. Meski tidak berdosa, tetap akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Orang yang larut dalam mencari dunia semacam ini akan menghadapi hisab yang panjang, bahkan para orang kaya akan tertahan lebih lama di akhirat sebelum memasuki surga.
  3. Dunia yang mengandung azab            
    Yaitu dunia yang menghalangi dari ketaatan dan menjerumuskan pada kemaksiatan. Harta haram, jabatan yang diperoleh dengan cara curang, serta kesenangan yang melalaikan akan menjadi sebab siksaan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika dunia dimasukkan ke dalam neraka, para pecintanya pun ikut digiring bersamanya.

Sikap Seorang Mukmin

Al-Habib Abdullah mengingatkan bahwa para pencari dunia memiliki beragam niat. Ada yang mencarinya untuk membantu orang lain, ini tergolong baik, meski tetap ada risiko kelalaian. Ada pula yang mengejar dunia hanya untuk syahwat, bersenang-senang, atau berbangga-bangga, maka mereka termasuk golongan yang tertipu bahkan celaka.

Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur’an:

ألا ذلك هو الخسران المبين 

“Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 15)

Karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak tertipu oleh dunia. Dunia hanyalah ladang untuk menanam amal, bukan tujuan akhir. Allah ﷻ berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Penutup

Hadis Rasulullah Rasulullah ﷺ yang berbunyi  “حب الدنيا راس كل خطيئة mengandung pelajaran berharga bahwa cinta dunia adalah pangkal segala dosa. Dunia hanya sarana, bukan tujuan. Jika digunakan untuk ketaatan, ia menjadi pahala. Jika berlebihan, ia menjadi hisab. Jika disalahgunakan, ia akan berbuah azab.

Oleh sebab itu, seorang mukmin yang cerdas akan menempatkan dunia sesuai porsinya: secukupnya untuk kebutuhan, selebihnya untuk bekal akhirat. Dengan begitu, ia selamat dari tipuan dunia dan beruntung dalam kehidupan abadi di akhirat.

Referensi

Alwi, A. (2020). Risalatul Mua’awanh wa yalihi Risalatul Mudzakirah. Jakarta: Dar Al Kutub Al Islamiyah.

Al-Quran al-Karim

Penulis: Alfin Haidar Ali